Oleh: kanguwes | 11 Mei 2009

Fitriadi

Fitriadi
Jur/kls/smt : KPI/B/IV
NIM : 207400305

2009/05/08 pukul 13:05

1. Pengalaman yang pernah saya alami
Beberapa waktu yang lalu tepatnya ketika masih sekolah di MA Al-Masthuriyah sukabumi, saya pernah mengikuti pengajian dalam rangka memeriahkan PHBI (peringatan hari besar islam) di RS BUNUT sukabumi, dalam acara tersebut diisi dengan tabligh akbar dan kebetulan penceramahnya adalah K.H. Jujun Junaidi. Dalam pengajian tersebut yang hadir bukan hanya ibu-ibu dan bapak-bapak saja bahkan Dari semua kalangan pun hendak menghadiri dan mengikuti pengajian tersebut, mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, pemuda, remaja bahkan anak-anak pun sangat antusias mendengarkannya.
Dalam pengajian akbar tersebut dilaksanakan hanya hari-hari besar islam saja dan tidak sering dilakukan di hari-hari biasa, oleh karenanya pengunjung rumah sakit ataupun masyarakat setempat sangat antusias sekali ketika mengikuti acara pengajian tersebut jika tidak menghadiri pengajian tersebut akan merasa rugi karena materi-materi yang disajikan penceramah sangat menyesuaikan dengan keadaan zaman.
Acara yang di sajikan didalam pengajian itu tidak jauh dari kegiatan agama seperti pada umumnya, misalnya pengajian Alquran yang dipimpin oleh para ustad-ustadnya, kemudian dilanjutkan dengan acara tausiyah islamiyah yang disampaikan oleh penceramah yang di undang.
Bisa dikatakan ketika saya mengikuti pengajian merasa terisi dan terhibur hati dan perasaan, karena ketika Muballigh menyampaikan materi diwarnai dengan kemampuannya, yaitu pandai membuat para mustami’ atau mad’u tertarik untuk menghadiri pengajiannya. Banyak orang yang terkesan ketika sepulang pengajian atau tabligh akbar.
Meskipun demikian rasa syukur patutlah kita panjatkan kepada Allah Swt, karena pada saat ini masyarakat yang beragama islam masih ada yang peduli dengan kegiatan dakwah, dengan begitu syi’ar islam masih bisa berjalan dengan baik, dan tidak tertinggal. Bagaimana mungkin dakwah islam bisa berjalan dengan lancar jika tidak ada kepedulian dari masyarakat itu sendiri.
Dalam penyampaian materinya begitu sesuai dengan keadaan karena para mad’u bukan hanya datang dari majlis ta’lim ibu-ibu saja masih banyak yang lainnya. Bukan sombong ataupun takabur, saya juga ikut memeriahkan acara tersebut dengan mementaskan alunan padang pasir dan shalawat (marawis), maka dari itu dapat menyedot perhatian para mustami dari semua kalangan. Setelahnya dilanjut dengan tabligh akbar.
Suatu aktivitas yang menyenangkan bagi saya mengikuti kegiatan tersebut dalam rangka menjalin tali silaturahmi dengan masyarakat setempat, disamping itu saya bisa mendapatkan tambahan ilmu pengetahuan agama diluar kegiatan kuliah yaitu yang saya dapatkan dari acara tausiyah keagamaan, sebagai bentuk tolabul ’ilmi seorang muslim dalam mencari ilmu.
Sebagimana kita sesama muslim di wajibkan untuk mencari ilmu guna menghilangkan kebodohan dalam diri kita, dan juga menambah pengetahuan tentang ilmu agama, sehingga kita dapat beribadah dan beramal sesuai dengan ajaran agama islam. Yang semoga kita diberkahi oleh Allah Swt dan diridhoi-Nya sehingga ilmu yang kita peroleh bermanfaat bagi kita, dan dengan ilmu yang bermanfaat itu kita dapat meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

2. Pengalaman pribadi sebagai da’i cilik
Menunggu giliran untuk naik keatas mimbar atau maju kedepan mad’u rasa gemetar dan keraguan begitu menyelimuti tubuh, kemudian setelah tiba waktu untuk meju kedepan rasa itu semakin meningkat dan rasa-rasanya saya ingin turun lagi dari mimbar karena merasa diri saya belum pantas berdiri didepan mustami, sedangkan yang menghadiri nya para da’i asli atau penceramah yang berkompeten dalam bidang tersebut.
Namun, dengan dijalani dengan kemampuan seadanya karena memang dalam proses pembelajaran menjadi seorang da’i walaupun masih dalam tingkatan da’i cilik “Dacil”, ketika dalam menyampaikan pesan-pesan dakwahpun terhambat karena rasa gemetar dan keraguan telah menyelimuti sebelum naik keatas mimbar mungkin karena baru pertama kalinya melakukan obsesi sebagai da’i.
Pengalaman yang saya alami tersebut ketika masih duduk dikelas dua SMP yang bertepatan dalam perlombaan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW. Banyak sekali pserta yang sudah tertanam dalam dirinya menjadi seorang da’i, maka dari itu saya minder ketika menyaksikan penampilannya begitu sistematis dalam menyampaikan isi dalam ceramahnya. Padahal dalam isi materinya sama-sama membahas tentang Maulid Nabi, dengan dibekali pengalaman yang cukup mereka dapat menyampaikan dengan baik.

Setelah menyaksikan penampilan peserta yang lain sayapun bergegas ingin seperti mereka dalam menyampaikan isi materinya tapi tidak semirip apa yang dilakukan mereka, dengan terbata-bata dalam menyampaikan isi materi yang saya bawa muncul rasa gemetar dan membuat konsentrasi saya buyar.
Sampai sekarang rasa keberanian berbicara didepan orang banyak masih belum tertanam dengan baik, maka dari itu saya masih penasaran untuk melakukannya lagi dan ingin sekali seperti para da’i yang sudah profesional dalam bidang tersebut.

3. Materi dakwah

MUSIBAH SEBAGAI TAZKIYAH DARI ALLAH SWT.

السلا م عليكم و رحمة الله وبر كا ته
الحمد لله الد ى امر نا با لصبر على المصيبة, الصلا ة و السلا م على سيد البر ية و على اله وصحبه ومن تبع رسا لته : اما بعد

Hadirin rohimakumullah….

Kita perhatikan, saat ini tanah air kita sedang menjerit, bumi pertiwi sedang menangis ketika menyaksikan banyak sekali musibah yang melanda tanah ini. Kita lihat beberapa daerah sedang ditimpa musibah, mulai dari gempa bumi bumi di DIY, tsunami di Aceh, angina puting beliung di Madura dan Brebes,banjir bandang yang melanda kota Jakarta, dan masih hangat-hangtnya kejadian tsunami kecil yang melanda saudara kita di cireundeu tangrang banten dan tanah longsor yang menimpa saudara-saudara kita disumatera.

Akibat musibah tersebut, tidak sedikit orang tua yang kehilangan anaknya, anak-anak yang kehilangan orang tuanya, dan akibat musibah yang terjadi telah melahirkan kepedihan, penderitaan, bahkan akan semakin bertambah angka kemiskinan dibumui pertiwi ini karena telah menghancurkan harta benda dengan waktu yang amat singkat. Na’udzubillah . .

Dr. Muhammad Husain Al-Baghdadi, seorang ilmuwan yang berkebengsaan Irak, dalam bukunya: “المصيبة عند القر ا ن شا هد علي قد ر ة الله “, mengatakan ‘ secara garis besar, al-Qur’an mendeskripsikan kepada kita tiga makna dari sebuah musibah. Pertama, musibah sebagai ujuian dari Allah. kedua, musibah sebagai sikasaan dari Allah. Ketiga, musibah seagai rahmat dan takziyah dari Allah.

Timbul pertanyaan, apakah musibah yang melanda negeri kita ini musibah sebagai ujian, adzab, atau rahmat dan takziyah dari Allah ?
Pada kesempatan kali ini yang akan saya bahas adalah Musibah sebagai takziyah dari Allah sebagaimana firmsn Allah dalam surat As-Syuro ayat 30-31 :

وما اصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم ويعفوا عن كثير (30) وما أ نتم بمعجز ين فى الارض وما لكم من دو ن ا لله من ولي ولا نصير

Artinya : “ dan apa musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan – kesalahanmu). Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari adzab Allah) dimuka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung pun dan tidak ada orang yang menolong selain Allah”.

أي ما يصيبكم أيها النا س مصيبة فبما اجتر حتم من الأ ثا م ويعفو ا عن كثير من إجرا مكم ولا يعا قبكم به بل رحمة منه بكم

“ hai manusia seluruh musibah yang menimpa kamuitu disebabkan karena dosa-dosa yang kamu perbuat, maka Allah mengahpus dosa-dosa itu dengan musibah, bukan sebagai siksaan namun sebagai rahmat bagi kamu “. Demikian penafsiran Syekh Kalid Abdurrahman l-Aki dalam “Syafwatul Bayan luma’anil Qur’an”.

Dengan demikian, tidak setiap musibah berarti siksa dari Allah, tapi ada musibah sebagai rahmat dan penghapus dosa yang dilakukan manusia. Timbul pertanyaan lagi, bagaimana kesadaran manusia untuk menghindari perbuatan maksiat saat ini dalam rangka menjauhi musibah tersebut ? kita tidak mungkin menutup mata dari kasus demi kasus, betapa rendahnya dari kasus demi kasus, betapa rendahnya perhatian manusia untuk menghindari perbutan maksiat, baik kepada Allah, kepada manusia, terutama kepada alam sekitarnya.

Kita perhatikan , seiring dengan perkembangan sains dan teknologi, banyak sekali orang-orang yang menyalah gunakan perkembangan tersbut dan mereka merusak, mencemari dan mengeksploitasi alam yang kini tumbuh subur laksana cendawan dimusim hujan. Sudah tentu banyak sekali bukti yang sering kita lihat disekitar, gunung-gunung yang dulu lebat akan pepohonan kini disulap menjadi mega-mega proyek, lahan pertanian yang dulu subur kini telah menjadi vila-vila yang megah, pembakaran huitan dikalimantan, penumpukan sampah dan limbah industri dikota-kota besar.

Belum lagi kemunkaran dan kemaksiatan yang dilakukan manusia saat ini, perjudian, perampokan, perkosaan, pembunuhan dimana-mana. Penipuan, budaya munafik, bahkan yang sedang marak-maraknya yang menimpa para wakil rakyat menikmati hasil yang bukan haknya yakni korupsi, kolusi dan nepotismeyang mewabah dan menggejala, bahkan sudah menjadi karakter bangsa.

Akibat kemaksiatan dan kemunkaran yang dilakukan manusia tersebut, maka sudah sepantasnya Allah menurunkan musibah sebagai takziyah dan pembersih terhadap dosa-dosa yang telah dilakukan manusia.

Dengan musibah yang Allah turunkan saat ini tindakan apa agar kita terhindar dari musibah yang kita alami sekarang ?
Sebagai jawabannya kita renungkan firman Allah dalam surat al-A’raf ayat 96:

و لوأن أهل القر ى امنوا واتقوا لفتعنا عليهم بركا ت من السما ء والأا رض ولكن كد بوا فأ خد نا هم بما كا نوا يكسبون (96)

Artinya : “ jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Imam Jalaludin as-Suyuti, dalam “lubanunnuqul fi asbabin nuzul” menjelaskan, ayat tadi diturunkan kepada kaum Nabi Luth yang sering melakukan kemaksiatan agar beriman dan bertaqwa dalam rangka menjauhi adzab Allah, yang diisyaratkan dalam kalimat “ و اتقوالو سعنا عليهم بر كا ت من السما ء و الا رض “, yakni “ apabila mereka beriman dan bertaqwa pasti akan kami laskan bagi mereka berkah dari langit dan bumi, demikian penafsiran Imam Ali as-Shabuni dalam shafwatut tafsir.

Dengan demikian, untuk mencegah dan menghindari musibah dinegeri ini langkah pertamadan utama yang harus kita lakukan adalah beriman dan bertaqwa, dalam bentuk menjaga hubungan baik dengan Allah (Hablum minallah) sebagai realisasi ma’rifat ilahiyah, dan menjaga hubungan baik dengan manusia (hablum minannas) sebagai realisasi ma’rifat insaniyah.

Oleh karena itu, kami menghimbau kepada hadirin, saya dan saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air untuk memantapkan keimanan dan ketaqwaan serta menjauhi kemaksiatan dan kemunkaran. Kepada para elit bangsa ini singkikrkanlah budaya korupsi, kolusi dan nepotisme, kepada warga Indonesia terutama umat isla mari kita laksanakan semua perintah Allah dan kepada para pemuda khususnya, mari kita gunakan masa muda ini dengan sebaik-baiknya dengan mengisi otak kita dengan ilmu pengetahuan dan yang terpenting kita hiasi diri kita dengan akhlakul karimah.
Syauqi Bekh dalam syairnya :

إنما الأمم الأخلاق ما بقيت فإ ن هموادهبت لأخلا قهم دهبوا

“ Bangsa-bangsa akan tegak berdiri apabila ditopang dengan akhlakul karimah, sebaliknya bangsa-bangsa akan jatuh tersungkur, rusak binasa apabila rusak akhlaknya ”.

Jika sikap tersebut dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, insya Allah bangsa kita akan terhindar dari berbagai bencana dan musibah. Bagi kita insane yang beriman yang melakukan langkah ini berarti telah melakukan amal shaleh.

Hadirin rahimakumullaah . . .

Uraian tadi dapat kita simpulkan, pertama, saat ini bangsa kita sedang tertimpa musibah dan malapetaka, kita berharap mudah-mudahan musibah ini merupakan rahmat dari Allah SWT. Kedua, dalam rangka menghindari musibah susulan mari kita tingkatkan ketaqwaan dan keimanan. Ketiga, mari kita berdo’a semoga saudara-saudara kita yang tertimpa musibah diberikan kekuatan dan kesabaran oleh Allah SWT. Dan bagi yang meninggal dunia semoga termasuk orang-orang yang mati syahid. Amin….

Burung irian, burung cendrawasih
Cukup sekian dan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.