Oleh: kanguwes | 11 Mei 2009

FERA YANI

FERA YANI
207 400 304
KPI/VI/A

2009/05/10 pukul 10:50

1.Coba anda ceritakan 1 proses dakwah yang pernah diikuti yang dinilai dari aspek psikologinya?
Jawaban:

Pada waktu itu saya menghadiri sebuah acara khitobah pada malam minggu tepatnya pada waktu isra mi’raj di masjid yang diadakan dikampung Pungangan yakni kampong saya sendiri.
Pada waktu itu saya melihat penceramah pertama dari segi penampngilan sang da’i/penceramahnya, yakni beliau datang dari Cirebon tepatnya dari desa Buntet pesantren, melihat aura/kharismanya sangat berwibawa dan menarik, selain ganteng, masih muda dan beliau jugalulusan dari luar negri yakni dari india. Dengan wawasannya yang luas sehingga orang-orang sekampung sangat senang melihatnya, walaupun sang da’I belum berceramah tentang pokok bahasannya/materinya karena dengan melihat fisiknyabeliau juga orang-orang sudah mulai tertarik.
Orang-orang kampung sangat kagum dengan da’I muda tadi, karena selain fisiknya oke tetapi gaya berpidatonyasangat bagus, materinyapun tidak bosan untuk didengarkan, sehingga orang-orang tidak merasa jenuh dengan ceramahnya. Selain beliau pintar berpidato ia juga pintar qiro,/ syarhil qur’an, sehingga orang-orang khusyu dalam mendengarkan ceramahnya. Selain itu juga beliau berpidatonya ada cara berpidato rekreatifnya, sehingga orng-orang tertawa dengan leluconnya sehingga orang-orang tidak merasa jenuh.
Dalam acara isra mi’raj tadi yang mendatangkan da’I muda yang berwawasan luas tadi orang-orang sangat menyukainya, dan kagum sehingga respon dari warga setempat dalam mendengarkan ceramahnya sampai selesai. Karena dengan gayanya yang bagus, sopan, dan berwibawa. Materi yang disampaikan tidak membosankan dan menjenuhkan, dilengkapi dengan gaya berpidato rekreatif, sehingga orang-orang tidak mudah bosan dengan ceramahnya itu.
Mungkin itu saja yang bisa saya ceritakan tentang pengalaman saya mendengarkan sebuah ceramah.

2.coba anda ceritakan pengalaman anda sendiri ketiku berdakwah/menyampaikan dakwah.
Jawaban:
Mungkin aku bukan seorang da’Iyah/ustadzah yang suka berdakwah di majlis-majlis atau di tempat lain, tapi aku sendiri punya pengalaman berpidato beberapa kali entah itu di pondok-pondok pesantren dalam acara rotinan (khitobah) atau di depan kelas, atau lomba pidato. Pengalaman berpidato ak mungkin bukan jenis pidato yang improvto. Mungkin lebih sering dengan jenis pidato yang memoriter atau menghafalkan teks, diawali dengan membikin teks dahulu lalu dihafalkan, baru setelah hafal ditampilkan. Waktu itu aku berpidato disebuah acara khitobahan mungkin awal aku ke depan agak nervous atau deg-degan tapi aku mencoba untuk percaya diri dan aku yakin aku pasti bisa, setelah membaca salam nervous aku sedikit menghilang dan aku berpidato dengan lancer, sedikit ada ceramah aku yang terganggu karena aku lupa dengan teksnya, tapi aku coba diam sebentar dan anak-anak santri menyoraki dan tepuk tangan meledek tapi setelah itu aku mulai ingat lagi dengan hafalanku, dan aku melanjutkannya dngan penuh semangat, dan dengan gaya-gaya aku sendiri, yang aku contoh dari gaya-gaynya para kyai berpidato, dan gaya-gayanya kakak-kakak senior berpidato, dan aku berhasil berpidato sampai denagn selesai. Dan diakhiri denagn tepuk tangan para audience atau para santri dan panitia.

3.buatlah satu materi pesan dakwah persuasive
Membersihkan bathin melalui dzikrullah

Hadirin muslimat muslimat yang saya hormati…!
Sebagai racikan awal yang harus mengkristal di dalam seluruh gerak langkah kita, adalah taqwa kepada allah SWT. Tuhan yang mampu memualikan yang hina, dan menghinakan yang mulia. Tuhan yang mampu membesarkan yang kecil dan mengecilkan yang besar. Allah, tuhan yang mampu menghidupkan yang mati dan mematikan yang hidup.
Secara filosofis, proses kebertuhanan kita, yang sering kali berbuah keresahan jiwa, dikarenakan kita tidak memiliki spiritual intelligent, tidak memiliki kecerdasan spiritual. Kenapa dimensi spiritualitas kita tidak cerdas? Menurut mula shadra, karena kita tidak pernah dzikrullah, dzikir kepada Allah.
Muslimin muslimat yang terhormat…!!
Dzikir merupakan salah satu langkah untuk lebih mengenal Allah, dzikir merupakan upaya untuk mendekati Allah, dan dzikir sebagai solusi cerdas guna mencapai kenangan bathin.
Menurut Dr. Muhammad Sulaiman al-asqadari, berdasarkan firman Allah Qs. Al-A’raf : 205, seorang mufassir kontemporer abad ini, dalsm Zubdah at-tafsir min fath al-qadar bahwa terdapat empat cara dalam melakukan dzikir yaitu:
Pertama : hendaklah kita berdzikir dengan cara sir atau tersembunyi dalam hati untuk mengingat allah, yang mengetahui aktivitas ini hanya kita dan Allah. Sehingga jauh dari perasaan mengharapkan sanjungan teman, pujian tetangga ataupun pujaan guru kita, tapi semata-semata karena Allah Swt.
Kedua : hendaklah dalam berdzikir kita bersikap rendah hati, tawadhu, bersimpug, menyerahkan diri kita dihadapan Allah.
Ketiga : waktu yang tepat untuk berdzikir adalah sejak terbit matahari di sebelah timur dan terbenam di sebelah barat, sejak pagi hingga petang dari petang sampai pagi. Dengan kata lain, dzikir tidak terbatas oleh waktu, selama ada waktu di sana harus ada dzikir.
Keempat : hendaklah ketika berdzikir tidak dengan suara lantang seperti suara orang marah, dan tidak merengek seperti orang menangis tapi pertengahan antara keduanya.
Berdasarkan uraian tersebut Nampak jelas bahwa dzikir yang dilakukan secara terus menerus dengan penuh khidmat dan khusyu akan membawa nuansa hati sanubari kita senantiasa dekat dengan Allah, berkembanglah kecintaan yang mendalam kepada Allah, mantaplah hubungan dengan Allah, sehingga secara psikologi dzikir semakin mengembangkan penghayatan kehadiran Allah dalam diri dan kehidupan yang pana ini hujatul islam al-imam al-Ghazali menyebut proses ini sebagaio muroqobah, yakni kita dekat dan selalu merasa diawasi oleh Allah. Dan kalau kita sudah merasa diawasi oleh allah maka tidak mungkin melanggar aturan Allah.
Berbahagialah insane-insan yang suka dzikir kepada Allah, sebab ia akan memperoleh ketenangan bathin, mendapat ampunan, dan meraih pahala yang besar dari Allah Swt.
Oleh karena itu, hendaklah kita selalu berdzikir dengan penuh khidmat dalam mengisi waktu ini. Semoga kita mendapatkan ketenangan yang hakiki serta diberikan kekuatan oleh Allah untuk selalu mengingat kepada-Nya. Amien yarobbal’alamien.
Wassalam………….


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.