DANI FIRMANSYAH
207400290
KPI A/IV
2009/05/10 pukul 03:26
PSIKOLOGI DAI
Tepatnya pada bulan maulud, Daerah saya (jalan Reungas kecamatan Bandung Kulon Kelurahan Gempol Sari) mengadakan acara muludan. Pada malam harinya akan diadakan Tabligh Akbar tentang kelahiran nabi kita tercinta Nabi Muhammad saw. Dai yang akan menjadi pengisi Tabligh Akbar dalam acara muludan di kampung saya adalah H. Ahmad Salimul Afif M.Sc. mungkin Da’i itu sudah tak asing lagi ditelinga kita. beliau juga selain aktif dalam berpidato atau berkhutbah, beliau juga seorang pimpinan Majlis Ta’lim Ad-Dahlaniyah yang bertempat di Cibodas Cimahi Selatan Bandung.
Beliau berpidato dari Jam 11 Malam sampai jam 1 pagi. Beliau adalah seorang sosok da’i atau Orator yang handal dan juga Kreatif. Karena beliau bisa mengimpropkan antara isi pesan, keadaan mad’u,media, dan lain-lain. Beliau juga dalam berpidatonya menggunakan sistem dakwah Ummah dan beliau juga menggunakan media musik yang biasa disebut Terbangan.
Jadi ketika beliau berpidato selama kurang lebih 1 jam setengah, beliau memakai alat musik terbangan yang dimainkan oleh kru nya. Menurut tafsiran saya sendiri, tujuan beliau memakai alat musik itu (Terbangan) sebagai media agar tidak ada kejenuhan di setiap mad’u Dan masih menurut analisis saya, beliau sangatlah kreatif dalam mengimprovkan antara ceramah dengan musik.
Dan beliau juga termasuk dai yang bahasanya sangatlah mudah dicerna oleh Mad’u karena ada sebagian dai atau komunikator yang bahasanya terlalu sulit untuk dicerna di depan mad’u. Jadi salah satu kelebihan beliau, beliau juga bisa mengerti akan kebutuhan mad’u jadi bahasa beliau pun mengatur sedemikian rupa agar bahasa beliau lebih mudah dicerna oleh masyarakat atau Mad’u dan agar para audiens lebih bisa mencerna maksud dari apa yang beliau maksudkan.
Dan salah satu kelebihan beliau, beliau bisa menambahkan dalam pidatonya sebuah guyonan dan cerita-cerita singkat dari para sahabat nabi atau Tabi’in. Menurut saya, itu juga salah satu cara dari beliau agar para mad’u tidak merasakan jenuh dalam mendengarkan pidato beliau.
Dan dilihat dari gerak tubuh beliau, beliau juga tidak hanya duduk di atas kursi tapi sekali kali beliau jalan jalan diatas panggung dengan melihat lihat para audiens. Menurut analisis saya, itu adalah salah satu cara beliau agar beliau lebih akrab dengan para mad’u dan agar tidak ada batasan antara beliau dengan mad’u karena di dalam perspektif ilmu komunikasi, kontak mata itu sangatlah Urgen untuk para komunikator untuk memperhatikan keseriusan komunikator berbicara dengan para komunikan.
Bahasa yang dipakai beliau adalah bahasa indonesia karena di daerah saya bukan hanya ada orang-orang sunda akan tetapi ada juga orang-orang luar jawa barat seperti ada orang jawa, orang batak, orang cina dan lain lain. Dengan beliau memakai bahasa indonesia, para Mad’u di daerah saya akan lebih memahami dari apa yang dipidatokan oleh beliau. Menurut anlisis saya, beliau memakai bahasa indonesia di dalam pidatonya karena beliau tahu, tidak semua orang dari daerah yang sama seperti dari daerah sunda, batak, jawa , dan lain-lain. Dengan memakai bahasa indonesia, bahasa beliau akan lebih dipahami oleh setiap mad’u yang beliau dakwahi. Dan bahasa ndonesia juga telah menjamur atau sudah terbiasa di setiap daerah. Paling tidak setiap orang di indonesia akan paham apabila sang da’i memakai bahasa indonesia daripada bahasa daerah lainnya.
Dan salah satu kelebihan beliau ialah beliau bisa menyebutkan dalil dalil alquran dan hadis dengan menyebutkan asal mula ayat itu turun(Alquran) dan beliau juga bisa menyebutkan matan matan dan perawi perawi(Hadis) dengan lengkap dan jelas. Karena menurut saya, seorang da’i itu setidaknya harus bisa menguasai ilmu ilmu yang bersangkutan dengan dalil dalil yang dipakainya. Baik itu Al-qur;an ataupun Al-Hadis. Seperti memakai ilmu Tafsir, ilmu Asbaabun Nuzuul (Untuk Al-Qur’an), ilmu Mustolahul Hadis dan Takhrijul Hadis (Untuk Hadis). Itu semua dilakukan agar Tidak adanya keraguan di setiap Mad’u, apakah dalil hadis itu peringkatnya hadis Sohih atau Do’if? dan pertanyaan – pertanyaan yang lainnya. Dengan mengetahui ilmu ilmu itu, akan lebih meyakinkan kepada setiap Mad’u bahwasanya kita sebagai Dai tidak bermain-main dalam Kita berpidato atau menyebarkan islam.
PENGALAMAN BERPIDATO
Salah satu kegiatan di daerah saya ialah pengajian ibu-ibu, bapak-bapak dan pemuda-pemudi. Kegiatan itu biasanya di adakan di masjid daerah saya yang bernama Masjid Baitur Rohmaan. Kegiatan itu dilaksanakan setiap hari jum’at sesudah Shalat Ashar berjamaah. Dan pada waktu itu( Bulan November 2008) saya disuruh oleh ketua DKM mesjid daerah saya agar saya bisa menjadi orator atau dai dalam minggu itu. Ketua DKM itu menyuruh saya karena saya salah seorang Lulusan Pesantren Albasyariyah dan Salah seorang Mahasiswa yang sedang mencari Ilmu di Universitas Islam Negri sunan Gunung Djati Bandung.
Awalnya saya menolak karena menurut saya, saya juga masih belajar dalam berbicara yang baik di depan Public dan menurut saya juga, masih banyak di daerah saya, orang orang yang pintar Agamanya akan tetapi karena Ketua DKM itu memaksa, mau tidak mau saya pun harus menjadi pembicara dalam pengajian itu.
Pada wakut itu saya mengambil tema “Dosa-Dosa yang biasa diremehkan”. Mengapa saya mengambil judul itu? Jawabannya karena saya mau memperkenalkan atau memperingatkan tentang dosa-dosa yang biasa dilakukan oleh kita sehari-hari seperti Berbohong, Ghibah, Hasud dan lain lain.
Didalam saya berpidato, sebenarnya saya juga malu karena pada waktu itu bukan hanya pemuda-pemudi saja yang menghadirinya akan tetapi banyak juga yang sedikitnya tahu masalah agama di tempat itu. Tapi karena saya tidak mau mengecewakan orang tua saya, saya berusaha agar pidato saya itu bisa mendapatkan hasil yang baik.
Pada waktu itu saya menggunakan sistem pidato yang sistematis. Jadi sebelum saya berbicara di depan mad’u, saya menskemakan apa yang akan saya bahas. Kurang jauhnya seperti dibawah ini:
Term pertama, saya menjelaskan tentang dosa-dosa yang biasa diremehkan oleh setiap orang
Term yang kedua, saya menjelaskan tentang apa yang akan kita terima apabila kita selalu melakukan dosa-dosa itu
Term yang ketiga, saya menjelasakan tentang tata cara atau tip dan trik agar kita terjauh dari perbuatan dosa dosa itu
Term yang ke empat, saya merangkumkan seluruh pembicaraan saya
Term yang kelima, doa bersama agar kita terjauh dari dosa dosa itu.
Dan apa yang saya usahakan itu mendapatkan respons yang baik di depan para khalayak.
Tapi tak ada gading yang tidak retak. Saya juga menyadari salah satu kekurangan saya adalah banyaknya gerakan yang tidak perlu dalam berpidato misalkan saya membenarkan kancing baju, membenarkan kopiah dan lain lain. Itu semua untuk menghilangkan rasa grogi saya di depan para audiens.
Antisipasi dari kekurangan itu, saya akan belajar tentang ilmu retorika, ilmu Komunikasi,Ilmu Psikologi dan ilmu ilmu lain yang bersangkutan agar saya bisa menghilangkan rasa grogi saya karena dengan saya mengetahui penyebab saya malu atau Grogi, Insya Allah saya akan bisa menghilangkannya dan menggantinya dengan hal hal yang lebih disukai oleh para Mad’u.
Akan tetapi hal yang paling pertama saya lakukan sebelum berpidato di depan para audiens yaitu berdoa dengan sugguh-sungguh dan membaca doa pilihan seperti
“Robbisy rohlii sodrii wa yasirlii amrii wahlul uqdatan min lisanii yafqohuu qoulii”
karena saya membaca dalam sebuah buku,doa itu adalah doa nabi musa agar bisa lancar berbicara di depan Raja Firaun. Semoa saja dengan doa doa itu saya akan lebih dilancarkan dalam saya berbicara di depan publik.
Menurut saya, sebenarnya seorang Da’i itu harus menguasai dulu segala unsur yang terjadi dalam pembicaraan. Seperti kita harus menguasai dulu tentang tema yang akan kita jelaskan kepada audiens, kita harus bisa mengetahui dulu psikologi audiens dan unsur unsur yang lain. Itu semua bertujuan agar kita bisa menghasilkan sebuah ceramah atau pidato yang persuasif karena dengan kita mempersiapkan itu semua, kita akan bisa mendapatkan hasil yang memuaskan.karena tujuan dari pidato itu adalah isi pembicaraan kita harus bisa mengena atau masuk kepada setiap mad’u dan kita harus bisa mencapai tujuan yang kita harapkan.
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh
Yang pertama tama marilah kita panjatkan segalapuja dan puji hanya bagi Allah Subhanahu wata’ala. Kita memuji, memohan pertolongan dan meminta ampun kepadaNya. Kita berlindumg kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wata’ala maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan RasulNya.
Yang kedua marilah kita panjatkan salawat dan salam kita ke pemimpin kita, ke tuan kita dan kepaa kekasih kita yaitu Nabi Muhammad Saw yang mana beliau telah membawa kita dari zaman Jahiliyyah ke zaman islam dan beliau juga yang telah mendobrak pintu pintu berhala dan pintu pintu kesesatan.
Dan saya ucapkan terima kasih kepada bapak bapak dan ibu-ibu karena telah sudi meluangkan waktunya agar bisa mendengarkan ceramah dari saya Yang insya Allah tema yang akan Kita bahas pada saat ini adalah
TAWADHU’
Tawadhu’ adalah ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya baik ketika suka atau dalam keadaan marah. Artinya, janganlah kamu memandang dirimu berada di atas semua orang. Atau engkau menganggap semua orang membutuhkan dirimu.
Merendahkan diri (tawadhu’) adalah sifat yang sangat terpuji di hadapan Allah dan juga di hadapan seluruh makhluk-Nya. Setiap orang yang mencintai sifat ini sebagaimana Allah dan Rasul-Nya mencintainya. Sifat terpuji ini mencakup dan mengandung banyak sifat terpuji lainnya.
Lawan dari sifat tawadhu’ adalah takabbur (sombong), sifat yang sangat dibenci Allah dan Rasul-Nya. Rasululllah mendefinisikan sombong dengan sabdanya:
”Kesombongan adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.” (Shahih, HR Muslim dari hadits Abdullah bin Mas’ud ra).
Jika anda mengangkat kepala di hadapan kebenaran baik dalam rangka menolaknya, atau mengingkarinya berarti anda belum tawadhu’ dan anda memiliki benih sifat sombong.Tahukah anda apa yang diperbuat Allah SWT terhadap Iblis yang terkutuk? Dan apa yang diperbuat Allah kepada Fir’aun dan tentara-tentaranya? Kepada Qarun dengan semua anak buah dan hartanya? Dan kepada seluruh penentang para Rasul Allah? Mereka semua dibinasakan Allah SWT karena tidak memiliki sikap tawadhu’ dan sebaliknya justru menyombongkan dirinya.
Tawadhu’ di Hadapan Kebenaran
Menerima dan tunduk di hadapan kebenaran sebagai perwujudan tawadhu’ adalah sifat terpuji yang akan mengangkat derajat seseorang bahkan mengangkat derajat suatu kaum dan akan menyelamatkan mereka di dunia dan akhirat. Allah SWT berfirman:
”Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di muka bumi dan kesudahan yang baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Qashash:83)
Fudhail bin Iyadh ra (seorang ulama generasi tabiin) ditanya tentang tawadhu’, beliau menjawab:
Ketundukan kepada kebenaran dan memasrahkan diri kepadanya serta menerima dari siapapun yang mengucapkannya.” (Madarijus Salikin, 2/329).
Rasulullah saw bersabda:
”Tidak akan berkurang harta yang dishadaqahkan dan Allah tidak akan menambah bagi seorang hamba yang pemaaf melainkan kemuliaan dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah melainkan akan Allah angkat derajatnya.” (Shahih, HR Muslim, no. 556 dari shahabat Abu Hurairah ra)
Ibnul Qayyim ra dalam kitab Madarijus Salikin berkata:
”Barangsiapa yang angkuh untuk tunduk kepada kebenaran walaupun datang dari anak kecil atau orang yang dimarahinya atau yang memusuhinya maka kesombongan orang tersebut hanyalah kesombongan kepada Allah karena Allah adalah Al-Haq, ucapannya haq, agamanya haq. Al-Haq datangnya dari Allah dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan diri untuk menerima kebenaran berarti dia menolak segala yang datang dari Allah dan menyombongkan diri di hadapan-Nya.”
Perintah untuk Tawadhu
Dalam pembahasan masalah akhlak, kita selalu terkait dan bersandar kepada firman Allah SWT:
”Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasul teladang yang baik.” (Al Ahzab:21)
Dalam hal ini banyak ayat yang memerintahkan kepada beliau untuk tawadhu’, tentu juga perintah tersebut untuk umatnya dalam rangka meneladani beliau. Allah SWT berfirman:
”Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimi yaitu orang-orang yang beriman.” (Asy-Syu’ara:215)
Rasulullah saw bersabda:
”Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian merendahkan diri sehingga seseorang tidak menyombongkan diri atas yang lain dan tidak berbuat zhalim atas yang lain.” (Shahih, HR Muslim).
Demikianlah Rasulullah saw mengingatkan kepada kita bahwa tawadhu’ itu sebagai sebab tersebarnya persatuan dan persamaan derajat, keadilan dan kebaikan di tengah-tengah manusia sebagaimana sifat sombong akan melahirkan keangkuhan yang mengakibatkan memperlakukan orang lain dengan kesombongan.
Akhir kata semoga saja kita termasuk orang orang yang tawadhu di depan Allah Swt sehingga kita bisa masuk kedalam Syurga yang dijanjikan Allah Swt. Apabila ada yang benar dalam perkataan saya itu datangnya dari Allah Swt,dan apabila ada yang salah itu pasti datangnya dari saya dan apabila ada perkataan yang kurang mengenakan di hati para saudara/i,saya memohon maaf.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Komentar Terakhir