Susan Alfa Hasanah
207 400 354
KPI C/4
1. Ceramah yang paling berkesan bagi saya, yaitu ketika saya masih duduk di kelas 3 SMP pada tahun 2003 lalu, tepatnya dalam acara peringatan maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di sekolah saya pada waktu itu. narasumber atau penceramahnya pada waktu itu adalah Bapak K.H Ilyas Ruhiyat, beliau pada waktu itu masih aktif di MUI Jawa Barat, aktifis PBNU Jawa Barat dan sesepuh atau pengasuh pondok pesantren Cipasung, Tasikmalaya. Saya begitu terkesan dengan ceramah beliau, mungkin karena beliau karismatik dan benar-benar mempunyai pesona yang sangat luar biasa.
Tapi lebih dari itu, materi yang beliau berikan pun masih terngiang dalam telinga saya, meskipun sedikit, beliau menjelaskan bahwa kita harus senantiasa meningkatkan kualitas diri kita. Jika kita melakukan sesuatu yang sama tiapharinya, maka kita digolongkan orang yang rugi. jika kita melakukan sesuatu lebih baik dari hari kemarin, maka kita tergolong orang yang selamat, dan jika kita melakukan sesuatu lebih buruk dari hari kemarin, maka kita tergolong orang yang celaka. Mungkin dari sejam setengah beliau menyampaikan wejangan di acara itu, yang masih terngiang-ngiang mungkin hanya dalil itu, mungkin karena keterbatasan saya sendiri.
Tapi, ketika itulah saya mendapatkan materi yang benar-benar saya tersadarkan olehnya. Mungkin karena peyampaian beliau yang sangat halus, sopan, ramah dan sangat menyentuh, maka saya tekadkan sampai sekarang saya belum menemukan sosok penceramah seperti beliau, yang kharismanya sangat memberi kenyaman, ketenangan terhadap mad’u nya, namun materi dari ceramah tersebut dapat tersampaikan dengan gamblang, dan itu benar-benar terpatri dalam hati. Inilah metode dakwah yang sudah sangat saya dapatkan di era dakwah sekarang. Tipe dakwah yang beliau miliki sudah hampir punah, munking karena kualitas pesona da’i-da’i sekarang juga sudah mulai memudar.
2. Pengalaman ceramah yang paling berkesan adalah ketika saya mengikuti audisi da’i-da’iyyah yang diselenggarakan oleh salah atu tasiun televisi swasta yang ada di Indonesia. ketika itu bulan agustus tahun 2006, kebetulan saya baru menyelesaikan sekolah di bangku SMA. Saya mengikuti audisi tersebut karena dorongan teman-teman saya waktu di sekolah, serta wali kelas saya yang terus mensuport saya untuk menimba penglaman. Kebetulan pada zaman saya ini, baru diadakan audisi untuk da’iyyah, sehingga peserta yang daftar pun sangat membludak. Tapi itulah senangnya, saya jadi banyak kenalan, mulai dari anak yang masih SMA sampai ibu-ibu yang datang sambil menggandeng anaknya. Itulah pengalaman yang paling menarik dan deg-degan. Apalgi setelah bergulir pengantrian untuk mengambil kartu peserta, nomor dan urutan berapakah saya?. Wah sangat menegangkan. Tapi lebih menegangkan ketika dibagi perkelompok tentunya antara ikwan dan akwat dipisahkan, masing-masing berjumlah lima orang dan menentukan dengan merekalah kita naik ke atas panggung.
Masing-masing orang di beri waktu untuk berceramah selama tiga atau lima menit, tanpa muqoddimah. Kebetulan materi yang saya bawakan pada kesempatan kali itu tentang insan kamil. Materi yang saya hafalkan dari sebulan yang lalu, tapi penentuannya hanya di tentukan dalam waktu tiga menit saja. Saya merasa sedikit ada masalah ketika saya membacakan ayat suci Al-Qur’an ditengah-tengah penggalan keterangan, ternyata mungkin karena kondisi saya yang nervous meskipun sebulan latihan otodidak, saya membacakan ayat sucinya kurang maksimal dan kurang sinkron dengan apa yang saya harapkan. Kebetulan waktu itu saya membacakannya tidak murottal, tapi mujawwad, dan kondisi suara saya saat itu mungkin karena terlalu lama menunggu giliran, jadinya kurang fit. Tapi sudahlah jadikan ini pelajaran saja. Saya jadi ingin tersenyum mengingat moment itu ketika saya memberikan materi, mungkin kurang berbobot, tapi itulah kemampuan saya. Dan saya tutup ceramah saya itu dengan pantun, yang sempat mengumbar senyum pihak juri.
Saya jadi teringat wajah para juri yang waktu kebetulan juri pada saat itu jurinya adalah pelantun soundtrack dari acara audisi itu, selanjutnya juri dari pihak TPI dan satu lagi saya lupa. Tapi semua terlihat menyeramkan waktu itu. Saya pun sempat down ketika melihat para peserta lain membawakan tema yang lebih menarik, pembawaannyapun sangat keren, berbobot dan waw…amazing!. Tapi saya berfikir jangan sampai patah semangat, ini adalah kesempatan yang mungkin tak datang dua kali. Maka saya harus pergunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Meskipun dengan hasil yang kurang saya harapkan. Saya gagal. Penguman itu saya dapatkan dari radio Cosmo, dimana disana jugalah tempat saya mendaftar. Minimal setelah mengikuti audisi ini saya jadi tahu radio Cosmo Bandung, jadi tahu suasana audisi, jadi tahu kompetisi itu seperti apa, dan yang paling berkesan juga bisa langsung bertemu dengan Da’i Nanang, Da’I Fais, Da’I Dadang, Da’I Hariri, dan Da’i-da’I lainnya, dan setidaknya saya pernah merasakan di shooting. Tapi ini juga satu motivasi buat saya, untuk memancing mencari tahu bagaimana dakwah yang benar dan baik itu? Sehingga pada akhirnya saya tertarik pada dunia dakwah ini dan akhirnya itulah yang melatarbelakangi masuknya saya di jurusan KPI ini.
3. Contoh dakwah persuasif:
Assalmu’alaikum Warahmatullohi Wabarakatuh
Rekan-rekan muda yang berbahagia,
Lihatlah realitas sekarang, terlalu banyak tontonan anak muda yang tak menuntun. Tak aneh anak muda sekarang sukanya bukan nonton aa dan mamah dedeh tapi lebih tertarik nonton infotainment, lebih suka nonton termehek-mehek, lebih suka nonton acara reality show yang menguras air mata karena satu hal yang bernama cinta. Ya, anak muda tak lepas dari yang namanya gembar-gembor cinta. Cinta kepada lawan jenis tentunya, tapi sekarang mah tak jadi aneh dan di cap biasa cinta kepada sesama jenispun. Semakin sembrawutlah yang namanya cinta. Dan apakah anda bangga mengagung-agungkan cinta?
Insya Allah berdirinya saya disini untuk mendefinisikan sedikit masalah ‘love’. What is the meaning of love? konon katanya, bila cinta sudah melekat, tai kotok pun rasa coklat. Semua hal terasa nikmat walaupun sengsara menjerat, dan celaka di akhirat. Na’udzubillah. Saya akan mencoba mendefinisikan pengertian cinta, meskipun pengertian cinta itu memang relative, tapi saya mohon pendengarkanlah pendapat saya mengenai sesuatu yang diagung-agungkan ini. Cinta, cerita indah tiada akhir. Salah. Tak selamanya dalam hubungan percintaan semuanya indah dan bahagia, hidup selalu diliputi senang dan duka, itulah sunatulloh. Sudahlah, sekali lagi saya bilang cinta itu relative, setiap orang bebas mendefinisan arti cinta menurut perspektif masing-masing. Sah-sah saja coy!
Rekan-rekan muda yang sedang dilanda cinta, yang tidak sedang dilanda cinta berarti STMJ (sudah tua masih jomblo)
Cinta, itulah sebuah rasa yang tumbuh merekah. Bunga-bunga serasa bermekaran. Kupu-kupu beterbangan. Hatipun berbunga-bunga. Jiwa menggelora. Semua rasa sakit hilang musnah. Semua kesulitan terasa mudah. Semua indah. itulah cinta. Ibnul Jauzi mengungkapkan dalam referensi buku yang saya baca The way to Life karya Abu Sholhuddin Izzudin, menyatakan “Barang siapa mengintip pahala karena keikhlasan, niscya menjadi ringanlah semua tugas yang berat”. Subhanlallah, begitulah cinta bila sudah ada keikhlasan didalamnya. Begitu indahnya si cinta. Dalam rasanya ia menghujam dada. Dahsyat energinya, mampu mengubah dan menggubah segala yang sederhana menjadi luar biasa.
Rekan muda, menurut Abul Faraj Ibnu Qoyyim Al-Jauzi Rahimahulloh, faktor yang mendorong dan menyebabkan tumbuh rasa cinta ada tiga:
sifat yang dimiliki orang yang dicintai dan pesona keindahannya.
persaan orang yang mencintai terhadap orang yang dicintai.
keserasian yang meliputi keselarasan dan kesesuaian antara orang yang mencintai dengan yang dicintainya.
Bila ketiga hal ini menguat dan sempurna, cintapun kuat dan mengakar. Dahsyat. Bila pudae, lemah, maka musibah pun segera menerpa. Gagal. Kecewa. Gundah. Itulah putus cinta. Sakit!
Namun apa relevansi uraian saya dari tadi dengan aplikasi kehidupan kita? rasululloh menggariskan bahwa kita belum mencapai derajat iman dan kecintaan yang sempurna, sebelum mampu mencintai segala sesuatu bagi orang lain sebagaiman kita mencintai buat diri kita sendiri. Eksp[resi cinta pada orang lain sejatinya kebutuhan dan kemanfaatan buat dirikita sendiri yang mencintai. Inti cinta adalah apa manfaat yang didapat. Pada apapun kita mencintai, dari situlah manfaat yang digali. Sebagaimana dalam Al-Qur’an Surat Ali-Imran : 31
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيم
“Katakanlah (jika kamu benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa) Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Mencintai Allah, mengikuti Nabi, akan dibalas kecintaan dan dihapus dosa yang dilakukan. Enak kan? Jadi cinta aslinya pamrih. Tapi di sisi lain Cinta itu adalah ruhul hayah. Pilar untuk selamat, sebagaimana kekuatan dahsyat yang dapat menghasilakan energi yang hebat. Cinta itu mengubah segalanya. Kesulitan, rintangan, dan ancaman adalah energi bumbu sukses, nikmat pembawa bahagia. Itulah jika cinta kita kepada satu yang hak yaitu Allah ‘azza wa jalla. JIka kita cinta padaNya, maka kita akan mencintai segala yang dicintaiNya, jika kita padaNya, kita akan membenci apa yang di benciNya, jika kita cinta padaNya, kita akan Ridlo terhadap apa yang Dia ridloi. Dan finishingnya, jika kita sudah begitu, janganlah memikirkan nasib kita di dunia dan akhirat, karena kalau kita cinta kepadaNya, niscaya cintaNya pun selalu mengiringi kita dimanapun dan kapanpun.
Rekan muda, dengan sedikit pengetahuan yang saya ketahui tentang cinta cinta ini, saya ingin mengajak rekan-rekan semua untuk tak terlalu mengagungkan rasa cinta yang akan membawa kita kepada jalan yang di murkaiNya. Dan disisni saya ingin mengajak rekan muda semua untuk sama menggapai cinta yang hakiki, yang hanya kepadaNya. Dan memang harus hanya kepadaNya, dan selalu kepadaNya.
Demikian yang dapat saya uraikan. Mohon maaf banyak kesalahan. Mudah-mudahan bermanfaat. Billahittaufiq wal hidayah.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Nama:Dian Virmansyah
Kls :KPI A / Smt 4
Nim :207400293
Mata Kuliah : psikologi Dakwah
Pengalaman mengikuti dakwah.
Pertama kalinya saya mengikuti acara dalam kegiatan dakwah yang di ikuti oleh penduduk masyarakat daerah saya, tepatnya desa soreang kabupaten bandung pada waktu itu diadakan kegiatan maulid nabi nabi besar Muhammad SAW. Yang kebetulan pengisi acara pada waktu itu adalah serang da’I terkemuka { kondang } jujun junaidi yang mana beliau menjadi penceramah siang hari.
Saya duduk paling depan menjadi pendengar setia akan pesan – pesan dakwah yang beliau bawakan. Ditempat pangajian inilah saya merasakan hal yang menarik akan dakwah yang beliau bawakan. Baik itu dari hal pesan, gaya bahasa, maupun penampilannya. Hal itu semua semakin lama- semakin membuat saya betah / kerasan dalam menjalani setiap waktu yang dihabiskan dalam pengajian tersabut, dan membuat saya selalu ingin terus – menerus mendengarkan pesan dakwah beliau. Sehingga pada akhirnya saya dapat melaksanakan hal apa saja yang telah disampaikannya.
Saya tidak tahu kenapa saya begitu tertarik sehingga dapat menyimpulkan saya suka akan bagaimana cara beliau berdakwah. Dibawah ini hal – hal yang dapat saya tuliskan menyangkut hal – hal yang saya sukai dari beliau diantaranya :
1. dari gaya bahasa.
a. terkesan humoris.
b. adanya lagu – lagu yang berkaitan dengan dakwah.
c. pantun dan syair yang menarik.
d. dan hal lain yang tak kalah menarik pula.
2. dari segi penampilan.
a. berwibawa.
b. tampan dan cool.
3. dari segi maudhu / pesan.
a. dapat dipahami dengan mudah.
b. dalil aqli dan naqli yang dapat dipercaya sanad dan rowinya.
c. contoh – contoh kejadian dalam pesan – pesan tersebut.
Dan hal – hal inilah yang saya sukai, dan mungkin semua orang juga apabila mendengar atau menyimak dakwah yang ia bawakan akan merasakan hal yang sama separti apa yang saya rasakan pula.
Hal ini juga tidak jauh berbeda ketika saya mengikuti pengajiannya Ust, Salimul Apip, dari mulai pesan dakwah yang ia sampaikan, sama pula seperti jujun junaidi namun tentunya juga ada hal – hal yang segikit berbeda dari yaitu penampilan dangaya bahasa yang ia gunakan.
Ust salim yang terkesan adanya gamis yang terurai dalam setiap penampilannya dan sorban yang setiap kali dijadikannya sebagai teman kopeahnya. Hal ini membuktikan suatu hal berbeda dibandingkan penampilan jujun junaidi. Dibandingkan Ust jujun beliau terkesan suka memakai jas, celana kopiah hitam dan sehelai sorban yang disandarkan pada bahunya. Disamping itu gaya bahasa yang ia bawakan sama menariknya namun dalam hal ini beliau suka menunjukan kemampuan sholawatnya yang diirinya alat musik klasik nasyid dan adanya beberapa orang murid yang ia bawa yang ia bawa.
Pengalaman Mengisi Dakwah yang Berkesan.
Pengalaman ini terjadi ketika saya diminta ceramah di Soreang tepatnya di desa Gajah Mekar, Kab. Bandung. Waktu itu saya lagi di rumah, karena waktu itu sudah sore, dan saya juga merasa sudah lelah dengan aktivitas yang biasa saya jalani. pada waktu itu. Ketika saya lagi nonton tv tiba-tiba ibu saya mendekati saya pertanda ada yang ingin dibicarakan.akan tetapi anehnya.
Tak lama berselang setelah sedikit berbasa-basi, ia berbicara seperti ini, “A, enjing ngisi pangaosan, nya! Ceramah di acara maulid nabi, sumping nya ka bumi diantos pisan ku bapak”. Hati saya tambah kaget dan setengah mati, karena yang nyuruh ceramah adalah ibu yang mendapat amanat untuk mencari penceramah dari ustad di desa saya, lalu dengan nada yang berbata-bata saya pun menjawab pembicaraan beliau, :Muhun umi, insya Allah aa sumping” hanya satu bait yang saya katakan waktu itu, sebab saya bingung harus bicara apalagi, karena orang yang bicara denga saya adalah bukan orang biasa, meskipun saya sering ceramah, ibarat kata di depan seribu orang bias lancer bicara, akan tetapi jika bicara di depan ibu.
Keesokan harinya saya bingung karena waktu itu adalah hari dimana saya diminta mengisi pengajian di majlis ta’lim dalam rang memperingati acara Maulid Nabi Besar Muhammad Saw.
Pikiran saya tambah tidak karuan tapi saya mulai mencoba untuk berdzikir kepada AllahSWT dan memohon untuk diberi ketenagan dan kemudahan. Setelah saya selesai berdzikir saya mulai terbuka dan hati saya agaksedikit tenang. Singkat cerita saya sudah mempersiapkan apa-apa yang akan saya sampaikan nanti, dengan kalimat bismillah saya berangkat dari rumah dengan didampinga oleh paman saya. Saya mulai barjalanan ke majid al-barakah, Soreang tempat dimana saya akan ceramah nanti. Hati ini masih sadikit berdebar karena mau berbicara apa nanti jika bertemu dengan para hadirin.
Selang satu jam, saya sudah sampai di dptempat, ketika mobil melewati gang saya bicara pada sopir, “Kiri mang” lalu sopirpun menghentikan mobilnya. Saya pun turun dan menatap ke masjid, karena tempatnya tidak jauh dari. Rasa tegang pun muncul kembali, karena saya harus siap bertemu dengan ustad untuk pertama kalinya. Akan tetapi tegang itu sedikit hilang ketika ustad datang dan menjemput saya, dengan senyuman menyambut saya dan saya pun membalas senyuman itu. Tak lama berbasa basi saya diajak masuk ke dalam masjid. Setelah masuk saya pun dipersilahkan duduk di beri minuman segelasa air putih.lalu berbincang-bincang dan saya pun melayaninya. Selang beberapa menit ustad lain datang menemui saya dan menyapa saya, sayapun ikut berbincang dengannya, lama-kelamaan rasa grogi pun hilang karena terbawa bincang-bincang dengan mereka.
Tidak lama kemudian adzan Ashar pun terdengar dan saya pun mengakhiri perbincangan saya dengan bapak H.Balong sebagai sesepuh. Saya meminta ijin untuk bergegas ke mesjid dan shalat berjamaah. ustad pun mengijinkan dan akhirnya saya dan pak H.Balong shalat Ashar berjamaah. Tak terasa waktu terus bergulir, sudah saatnya saya mengisi pengajian dengan ceramah agama. Dengan badan yang sedikit gemetaran dan grogi, saya berusaha untuk kuat dan mengingat sedikit demi sedikit kajian yang saya sudah persiapkan., para jamaah mulai berdatangan hingga akhirnya mesjid menjadi penuh dan padat oleh mustami’.
Acapun dimulai, dan saya mulai mempersiapkan diri dan paman saya yang jadi pembawa acara atau pengatur acaranya. Acara pun dimulai dan menyebutkan susunan acara. Selang beberapa waktu acara-demi acara terus berurutan selesai hingga akhirnya menginjak acara inti, yaitu taushiyah agama. Hati saya seakan tersentak dan kaget karena sudah tiba saatnya bertarung mempertahankan mental saya. Ketika saya berceramah di depan para hadirin.
saya mengawalinya dengan salam, Assalamu’alaikum wr. wb. adalah kata pertama yang saya ucapkan waktu itu. Saya berusaha menguasai diri dan mental agar saya bisa menyampaikan ceramah dengan baik. Selang satu jam Alhamdulillah akhirnya perjuangan saya telah selesai dan Alhamdulillah tanggapan mustami’ baik terhadap kajian yang saya sampaikan bahkan ada seorang yang hadir berkata: wah Da’I yang tadi sangat eces (menarik), tetapi saya senang karena tantangan terbesar yaitu ceramah didepan para mustami’ yang banyak jamaahnya, selesai dengan lancar meski belum maksimal. Hal ini membuat saya jadi termotivasi untuk terus berlatih, dan yang terpenting para jamaah mustami’senang karena melihat saya yang masih muda bisa ceramah. Akhirnya saya diminta untuk mengisi lagi pada kesempatan yang lain. ternyata bias eramah itu tidak hanya mengundang rohmat Allah akan tetapi dapat mengundang ketertarikan.
Mudah-mudahan saya dapat istiqomah dalam menjalaninya…amien
Teks Dakwah persuasive :
Tema : Taqwa
Segala puji hanyalah milik Allah SWT. Dia-lah yang telah menganugerahkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi seluruh manusia dan rahmat bagi seluruh alam dan yang telah menciptakan manusia dan jin tiada lain hanyalah untuk menyembah dan bertauhid serta bertaqwa kapada Allah SWT. Dengana taqwa yang sesungguh-sungguhnya.
Shalawat bertangkaikan salam marilah kita panjatkan kapada junjunan kita Nabi besar Muhammad saw. Utusan dan manusia pilihan Allah. Dialah yang telah membawa perubahan di alam semesta ini. Kepada keluarganya, sahabatnya, para tabi’in- tabia’tnya, yang mudah- mudahan sampai kepada kita selaku umatnya
Bapa- bapa, ibu- ibu, para pemuda, dan para pemudi yang saya hormati dan Allah mulyakan. Pada kesempatan ini saya akan mengupas sedikit tentang taqwa kapada Allah S.W.T. Tapi sebelumnya hadirin harus tahu apa itu taqwa, taqwa bukan kepala botak dibawa- bawa,dan taqwa bukan kepala botak mang awa tapi taqwa adalah melaksanakan perintah- Nya dan menjauhi larangan Allah S.W.T. Jadi hadirin kalau kita sudah bisa menjauhi segala larangan Allah dan menjalankan apa yang telah di perintahkan oleh Allah berarti kita bisa dikatakan bertaqwa kapada Allah S.W.T. Dan apabila kita belumbisa menjauhi segala larangan Allah S.W.T.dan belumbisa menjalankan apa yang telah di perintakan oleh Allah kepada kita. Maka kita belumbisa dikatakan bertaqwa kepada Allah S.W.T.
Hadirin ikhwatul iman yang Allah mulyakan
Kita semua juga harus tahu bahwa taqwa adalah gabungan antara iman dan islam, kalau iman merupaka pengakuan lisan dan hati, sedangkan islam merupakan realisasi dari pengakuan itu maka taqwa merupakan gabungan antara keduanya. Oleh karena itu, taqwa merupakan derajat yang paling tinggi yang harus di capai oleh seorang muslim,karena taqwa dapat menjamin kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Jadi kita harus senantiasa bertaqwa kepada Allah S.W.T.dimanapun kita berada seperti dikatakan di dalam hadits yang di riwayatkan oleh Ahmad dan At- Turmudzi dari Abi Dzar sebagai berikut:
Artinya :” Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada lakukan kebaikan setelah melakukan keburukan, sebab kebaikan itu akan menghapuskan keburukan. Bergaullah dengan manusia dengan budi pekerti yang baik ( H.R. Ahmad dan At- Turmudzi dari Abi Dzar ).
Hadirin ikhwatul iman yang Allah mulyakan
Dalam hadits di atas,nabi menyuruh kita untuk senantiasa bertaqwa, dengan tidak terikat oleh ruang dan waktu di bagian bumi manapun kita berpijak, kita harus selalu bertaqwa sesuai dengan ketentuan agama, perilaku taqwa tidak haya dilaksanakan terbatas ketika kita berada di masjid atau mushola, tetapi dimanapun kita berada sikap taqwa harus terpancar dari diri seorang muslim. Contohnya seorang pedagang yang muslim harus jujur dan tidak boleh merugikan, menipu, atau menyembunyikan kekurangannya kepada pembeli dan seorang pedagang harus menunjukan sikap yang sesuai dengan ajaran agama Islam. Itulah hadirin yang dimaksud dengan “ Bertaqwalah di manapun berada “.
Nabi juga menganjurkan kepada kita agar segera berbuat kebaikan setelah kita kita berbuat kesalahan sehingga pahala kebaikan dapat menghapus dosa dari kesalahan yang telah kita kerjakan, sebagaimana firman Allah dalam surat Huud ayat 114.
Artinya : Sesungguhnya perbuatan baik akan menghapus dosa- dosa perbuatan jahat.
Dan seterusnya nabi menganjurkan kepada kita untuk bergaul dengan baik antar sesama manusia. Di sini nabi tidak membatasi pergaulan dengan sesama muslim atau non-muslim, tetapi nabi hanya mengatakan pergaulilah sesama manusia dengan budi pekerti yang baik. Maksudnya adalah siapapun manusia, baik muslim maupun non-muslim, harus kita pergauli dengan budi pekerti yang baik. Bergaul sesama orang merupakan kebutuhan manusia. Sebab tanpa hubungan dengan orang lain manusia tidak akan dapat memenuhi segala kebutuhannya. Disamping itu hubungan dengan orang lain juga merupakan kebutuhan naluri manusia sebagai makhluk sosial.
Hadirin ikhwatul iman yang Allah mulyakan
Kita juga haruas tahu sifat-sifat orang bertaqwa yang di jelaskan didalam surat Al- Baqarah ayat 2- 5.
Artinya :”Kitab ( Al- Qur’an ) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang beryaqwa,( Yaitu ) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang kami anugrahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada kitab Al- Qur’an yang telah yang telah diturunkan kepadamu dan kitab- kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta mereka yakin akan adanya ( kehidupan ) akhirat. Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang- orang yang beruntung”.
Ayat 2 menegaskan fungsi Al- Qur’an sebagai pedoman hidup ( way of live ) bagi orang- orang yang beriman.sedangkan ayat 3,4 dan 5 di dalamnya Allah menjelaskan sifat- sifat orang yang bertaqwa:
1. Orang yang beriman kepada hal- hal yang ghaib, seperti adanya Allah,malaikat,surga,neraka dan hari kiama.
2. Orang yang mendirikan shalat, artinya mengerjakan shalat dengan syarat- syarat dan rukun- rukun yang telah ditetapkan.
3. Orng yang berifaq daru rezeki yang telah diberikan oleh Allah,baik berupa rezeki material atau rezeqi non material.
4. Orang yang beriman kepada kebenaran Al- Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Dan beriman kepada kebenaran kitab- kitab yang diturunkan kepada nabi- nabi sebelumnya, separti kitab Taurat dan Injil.
5. Orang yang beriman kepada adanya hari pembalasan.
Dan Nabi Muhammad saw.juga menerangkan sifat orang bertaqwa yang bakal mendapat tempat berteduh nanti di hari mahsyar,sebagai berikut:
Artinya: “ Ada tujuh macam sifat orang yang bakal mendapatkan tempat berteduh oleh Allah di hari yang mana tidak ada tempat berteduh ( kiyamah di padang mahsyar ): 1.pemimpin yang adil, 2. anak kecil yang dari kecilnya rajin beribadah, 3. laki- laki yang hatinya suka ke masjid, 4. dua orang laki- laki yang bersahabat karena Allah, berkumpul karena Allah,berpisah karena Allah, 5. laki- laki yang yang di bujuk berbuat maksiat oleh wanita cantik, tapi berkata, saya takut oleh siksa Allah, 6. laki- laki yang bersedekah terus disembunyikan, sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, 7. laki- laki berdzikir kepada Allah sehungga bercucuran air matanya.
Hadirin yang dimaksud oleh hadits di atas yaitu;
1. Pemimpin yang adil, dan jujur yang tidak pernah melakukan maksiat, dan yang betul- betul berjuang buat kemajuan umat dan agama Allah.
2. Anak kecil yang dari kecilnya sudah membiasakan beribadah kepada Allah disamping rajinnya mencari ilmu untuk bekal hidupnya.
3. Laki- laki yang hatinya terikat terus kepada masjid, yaitu hatinya suka mengagungkan masjid dan mema’murkan oleh rupa- rupa kemajuan islam.
4. Dua laki- laki yang saling menyayangi di jalan Allah, berkumpul karena Allah, berpisah karena Allah, sagulung- sagalang dalam memajukan kejayaan umat.
5. Lambang laki- laki yang kuat mentalnya, sehingga dibujuk untuk melakukan maksiat oleh wanita cantik tetapi tidak mau. Ini lambang dari kekuatan tauhidnya kepeda Allah, kekuatan iman yaitu takut akan siksa neraka nanti di akhirat.
6. Lambang orang yang ikhlas mengeluarkan sedekahnya, tidak ada niat didalam hatinya untuk riya,inginterpuji dan sombong melainkan mengharapkan ridha dan ganjaran dari Allah S.W.T. Sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang di lakukan oleh tangan kanannya.
7. Lambang orang yang benar- benar takut kepada Allah yaitu takut akan siksa neraka yang semuanya terbuat dari api dan lamanya lebih dari umur di dunia
Hadirin ikhwatul iman yang Allah mulyakan
Dan kita semua juga harus tahu kriteria ketaqawaan yang di jelaskan oleh Allah S.W.T. dalam surat Al- Baqarah ayat 177 bahwa ketaqwaan seseorang itu tidak di ukur oleh sikap lahir dari seseorang karena banyaknya bersujud kepada Allah, tetapi sikap ritual peribadahannya itu diaktualisasikan juga kedalam kehidupan bermasyarakat seperti membantu kerabat yang memerlukan, menyantuni anak yatim piatu dan fakir miskin. Itulah sifat orang yang bertaqwa yang berkaitan dengan harta kekayaan yang harus di terapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Disamping menepati janji, sabar dalam menghadapi kesulitan dan penderitaan. Bila semua perintah yang tersebut dalam surat Al- Baqarah ayat 177 tadi dilaksanakan oleh seorang muslim maka barulah dia disebut orang yang bertaqwa dan benar. Banar artinya sesuai antara ucapan dan perbuatan, dan bertaqwa artinya melaksanakan perintah dan menjauhi segala lerangan Allah S.W.T.
Jadi kesimpulannya kita harus senantiasa bertaqwa kepada Allah S.W.T. dimanapun kita berada sebab taqwa dapat menjamin kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dan kita harus segera melakukan kebaikan setelah melakukan keburukan sebab pahala kebaikan dapat menghapuskan keburukan yang telah kita perbuat.
Hadirin Ikhwatul iman yang Allah mulyakan
Itulah yang saya dapat sampaikan mohon ma’af apabila ada kesalahan, itu datangnya dari saya yang hampa terhadap ilmu dan kebenaran itu datangnya dari Allah S.W.T. dan mohon ma’af apabila ada tutur kata yang kurang berkenan di hati hadirin semua dan mudah- mudahan ada guna dan manfa’atnya khususnya bagi saya dan umumnya bagi hadirin semua dan mudah- mudahan kita bisa senantiasa bertaqwa kepada Allah S.W.T. di manapun kita berada dan mudah- mudahan dangan berkumpulnya kita disini bisa menjadikan ibadah kepada Allah S.W.T. dan ada dalam ridha Allah S.W.T.
Di tutup dengan do’a wabillahi taufiq wal hidayah wal inayah wal barakah
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Oleh: dian virmansyah on 25 Mei 2009
at 6:33 am
Nama : Idris Samsulloh
NIM : 204 400 307
Jur/kls/smt : KPI/B/IV
Pengalaman mengikuti proses dakwah
Proses dakwah yang menurut saya menarik, terjadi beberapa tahun silam tepatnya sekitar tahun 2005-an yaitu ketika saya mengikuti sebuah pengajian di tempat teman saya, yang kebetulan pamannya merupakan ustadz di daerah tersebut. Ketika itu ustadz Atus (yang biasa saya panggil dengan sebutan Pak Atus) berceramah tentang hukum meminum khamer, saya yang saat itu lagi nongkrong di tempat yang tidak jauh dengan lokasi tempat pak Atus berceramah sontak langsung mendatangi kajian tersebut. Saya begitu tertarik dengan masalah khamer tersebut, karena saya masih awam tentang masalah tersebut.
Yang saya tahu bahwa meminum khamer itu hukumnya haram, tetapi saya tidak mengetahiu secara pasti alasan kenapa meminum kahamer itu haram. Dan pak Atus menjelaskan dengan lugas tentang masalah tersebut, seketika itu ingatan saya langsung kembali kepada kejadian yang pernah berlangsung beberapa waktu yang lalu. Ketika itu saya beserta teman-teman lagi nongkrong sambil meminum beberapa botol miniman keras, dan ironisnya ketika kami sedang minum-minum ada kegiatan pengajian yang berlangsung tidak begitu jauh dari tempat kami. Dan bukannya berhenti, kami malah cuek dan meneruskan “pesta” tersebut. Dan tanpa disadari saya merasakan bulir-bulir air hangat menetes di pipi saya, yang tanpa disadari ternyata saya menangis mengingat atas apa yang telah saya lakukan.
Pak Atus menjelaskan kenapa khamer itu sampai diharamkan, dilihat dari segi medis jelas alkohol tidak memberikan dampak yang baik bagi kesehatan malah dapat merusak organ tubuh kita bagian dalam yaitu ginjal, dan dari segi sosiologis khamer memberikan pengaruh buruk bagi yang meminumnya sehingga tidak dapat mengontrol dirinya sendiri dan dapat meresahkan warga sehingga mengganggu ketentraman warga, dan dilihat dari segi teologis khamer bisa menghalangi kita menjalankan kewajiban kita terhadap Tuhan. Setelah mendengar penjelasan itu hati saya merasa gundah, dan akhirnya ketika kajian itu berakhir saya langsung mendatangi Pak Atus dan langsung menceritakan apa yang saya rasakan. Dan beliau memberikan nasihat, bahwa saya harus meninggalkan kebiasaan buruk tersebut dan melakukan taubatan nasuha serta berjanji untuk tidak melakukan lagi perbuatan tersebut. Setelah menerima nasihat dari beliau saya merasa begitu tenang, dan berjanji untuk tidak akan pernah meminum minuman yang dilarang Allah itu. Dan saya berharap semoga Allah memberikan kekuatan dalam kepada saya, supaya saya tidak terjerumus kedalam perbuatan nista tersebut untuk yang kedua kalinya.
Pengalaman berdialog masalah dakwah
Mungkin ini tidak bisa disebut berdakwah, tapi ini hanyalah sekedar dialog-dialog yang saya lakukan dengan ayah teman saya mengenai hal yang membuat beliau merasa bingung . Kejadiannya berlangsung beberapa waktu yang lalu. Ketika itu di daerah teman saya ada kejadian yang menurut saya agak menarik, kejadiannya ialah ada seseorang yang bisa dikatakan tokoh terpandang di daerah tersebut dan tentunya orang itu cukup kaya. Suatu ketika orang kaya itu tertimpa masalah sehingga mengalami kerugian yang cukup besar, dan si orang kaya itu meminta kepada “orang pintar” untuk mendoakannya di suatu tempat yang kebetulan tempat itu bersebelahan dengan rumah teman saya. Dan ayah teman saya yang kebetulan sudah sangat dekat bertanya, “Kenapa mesti minta didoakan oleh orang pintar? Kenapa tidak memohon kepada Allah secara langsung?” saya dengan pengetahuan yang sangat minim berusaha menjawab “Mungkin pengetahuan orang itu tentang agama merasa sangat minim oleh sebab itu dia meminta kepada orang lain sebagai sarana untuk mendoakannya, karena jaman sekarang ini banyak sekali orang-orang yang ingin mendapatkan sesuatu secara instan tanpa dia mau berusaha”, kelihatannya ayah teman saya kurang puas atas jawaban yang saya berikan, kemudian beliau bertanya lagi ”Dris dia (orang pintar) pernah menyuruh saya untuk mmengamalkan sebuah rapalan yang di kutip dari Al-Qur’an supaya tidak susah mendapatkan rejeki, yang jadi pertanyaan dia menyuruh saya mengamalkan tetapi dia sendiri maaf, orang susah?” sekali lagi saya dengan pengetahuan yang seujung mata kaki ini berusaha menjawab “ mungkin orang itu paham kalau kekayaan itu tidak selalu memberikan kebahagiaan di dunia, malah terkadang dapat menyesatkan yang penting kita dapat mengambil hikmah dan meyakinkan kita bahwa yang memberi rizki itu tetap Allah swt.”. sesungguhnya saya pun merasa ragu dengan jawaban yang saya berikan, yetapi saya hanya dapat memberikan jawaban tersebut.
Dari pengalaman tersebut saya menyadari bahwa ilmu saya masih dangkal dan sangat dangkal sekali, dan hal itu memotivasi saya untuk lebih giat dalam mencari ilmu untuk bekal saya berdakwah di masyarakat kelak.
Oleh: idris samsulloh on 14 Juni 2009
at 4:14 pm