Oleh: kanguwes | 6 Mei 2009

Cucu Tri Lestari

Cucu Tri Lestari
207400288
KPI/A/IV
5 Mei 2009  pukul 05:11

Memahami Psikologi da’I dan Mad’u

Yang menarik dari sekian banyak penceramah yang tinggal sedaerah dengan saya, dan yang pernah saya ikuti, menurut saya adalah Usdt Nana. Beliau lulusan salah satu pesantern di Tasik. Ustd yang masih muda ini melakukan dakwah dengan berbagai cara. Diantaranya, cara pengajaran dan  pengajian rutin ala madrasah, baik pada ibu-ibu, bapa-bapa maupun pada remaja. Selain itu dengan cara perbuatan dan dakwah gerakan, seperti selalu berusah mengajak para memuda untuk mengaji setiap hari di mesjid setelah sholat isya, mengajak sholat berjaamaah. Khususnya kepada pemuda-pemuda di daerah saya, beliau selalu mengajak  kepada kebenaran dengan memberi pengertian dan pemahaman yang masuk akal bagi pemahaman anak muda. Beliau juga selalu berkata baik dan sopan kepada semua kalangan. Beliu telah dipercaya menjadi ustad yang baik.
Selain dengan dakwah gerakan beliu juga dakwah dengan cara khithabah atau ceramah dengan menggunakan bahasa sunda. dakwah yang dilakukan beliau selalu sederhana.  Tanpa menggunkan alat yang lebih cangggih selain pengeras suara saja. Beiau juga sering melakukan diskusi, mentoring dengan para pemuda berbagi pendapat dan bertukar pikiran.
Pada tahun 2000, saat beliu telah lulus pesantren, dan kembali ke bandung ini dengan melakukan gerakan dakwah Dilihat dari aspek psikologi dakwah beliu telah berhasil mengajak dan membentuk mad’u yang kejalan yang lebih baik, khususnya para pemuda. Karena sebelum beliu datang kondisi mad’u (para remaja) ini masih jauh dari agama, mereka lebih sering nongkrong di jalan, berkumpul-kumpul tanpa maksud yang jelas bahkan ada yang suka mabuk-mabukan, jarang pergi ke mesjid untuk melalukan shalat berjamaah, kalau orang bilang  para pemuda yang  jauh dari agama.
Dilihat dari psikologi beliau sebagai da’I, keinginan beliau untuk terus melakukan dakwah, selalu menjalankan perintah agama, bukan dari aspek lingkungan, menurut saya konsep behaviorisme tidak mempengaruhi secara dominan karena dilihat dari lingkungan keluarganya, tidak ada dukungan sama sekali, karena sebagaian keluarganya jauh dari agama. Tidak ada faktor turunan. Tetapi dia memilki konsep Psikoanalisis dimana dia mempunyai keinginan-keinginan terpendam dari dalam diri. Jika dilihat dari teori Sigmund Freud, belau memilikiunsur super eg. Beliau memiki kesajaran sendiri,     .
Beliau adalah seorang da’I telah memiliki kreteria da’I, Dalam kepribadian yang bersifat rohaniah, beliau mampu memberikan teladan, panutan dan contoh yang baik kepada mad’u (masyarakat). Ia beriman dan bertakwa kepada Allah SWT., ia juga adalah seorang yang jauh dari maksiat secara terbuka, tidak pernah ada gunjingan, cemoohan dan membicarakan kejelekan beliau. Beliau juga termasuk yang bisa dipercaya (amanah) dan selalu berkata jujur (shiq). Beliau juga tidak pernah mementingkan diri sendiri.

Dilihat dari psikoligi mad’unya didaerah saya ini sangat beragaman. Dakwah yang dilakukan ustad Nana ini lebih menekankan kepada mad’u para pemuda-pemudi. Dan psikologi pemuda-pemudinya berawal dari yang jauh dari pengetahuan agama, setelah mendapat dakwah dan bimbingan spritual dari ustad Nana, para mad’u lebih sering melalukan keagamaan secara bersama. Dalam hubungan sosial pun pemuda-pemudinya dapat bekerjasama, bergotong royong dengan masyarakat lainnya. Mad’u  lebih sering aktif dimesjid, hadir diacara keagamaan dimesjid seperti ceramah, pengajian rutin dan jika ada individu atau masyarakat setempat yang mengadakan syukuran atau acara akikah dll, pemuda-pemudi ini selalu hadir dan ikut berpartisipasi. Selain itu menjadi panitia zakat, panitia Idul Fitri dan Idul Adha, agar terlaksananya sholat dan kewjiban lain.
Sedangkan mad’u yang orang tua yaitu bapak-bapak dan ibu-ibu selalu mendukung, memberi motivasi, adan memberi dana bantuan dalam acara keagamaan.
Untuk mad’u yang anak kecil mengadakan pengajian dan pembelajaran ala pesantern yang dibantu oleh ustad senior yaitu Ustad Syarif.
Dakwah didaerah kami cukup berhasil walaupu ada sebagaian masyarakat yang tidak mengikuti, tidak menjalankan perintah Allah yang telah disampaikan oleh Ustad-ustad dan da’I, tetapi lebih dari 60% sudah mengikuti ajakan dan seruan ustad. Walaupun disis lain ada orang yang berbeda pemahaman berbeda mazhap tapi ini bukan kendala tetapi harus dijadikan pelajaran agar lebih baik lagi.

Pengalaman berdakwah

Pertama kali saya melakukan berdakwah adalah dirumah dalam keluraga saya sendiri. Jujur saya tidak pernah melakukan dakwah dengan cara bertabligh. Dakwah yang saya lakukan hanya memberi pemahaman kepada keluarga kususnya orang tua dan saudara-saudara saya. Dakwah yang saya berikan berupa berdiskusi, saling bertukar pikiran. Karena pengetahuan saya yang terbatas, saya hanya bisa memberi pengertian sekemampuan saya.
Di Islam pada zaman sekarang ini selalu ada masalah dalam fiqih Islam karena begitu banyak mazhab dan di Indonesia ini terdapata organisasi-organi Islam yang memegang prinsip mazhab yang berbda seperti contoh Mazhab Syafi’I pada NU (nadatul Ulama)
Walau dalam keluarga saya terdapat perbedaan mazhap dalam fikih, saya memberikan pengertian bahwa perbedaan itu bukan penghalang dan bukan menjadi permasalahan, justru harus saling melengkapi. Sebagai pendakwah dilihat dari psikologinya, ada faktor lingkungan yang menuntut saya seperti ini dan salah satunya kedua orang tua dan tuntutan dari lmu yang telah saya miliki. Walaupun saya belum sepenuhya memenuhi kriteria menjadi seorang da’i, tetapi saya akan berusaha.
Kondisi mad’u, yaitu keluarga saya menerima masukan-masukan itu dan menjalankan dengan baik dengan cara saling mengingatkan satu sama lain.
Dilihat dari aspek konsep manusia secara psikologi, mad’u sangat terpengaruh oleh lingkungan, oleh faktor keturunan.
Selain dakwah pada keluarga juga saya melakukan dakwah pada teman-teman dengan cara berdiskusi, saling bertukar pikiran. Sebagai pendakwah saya melakukannya dengan cara memberikan pengertian yang logis, agar dapat diterima dengan mudah, selain itu dengan gerakan-gerakan dakwah.contohnya mengajak untuk sholat berjamaah, mengajak mengunjungi yatim piatu untuk berbagi, mengajak pergi ke majelis t’alim, dll. Psikologi teman-teman sebagai mad’u dapat menerima dakwah yang telah saya berikan.
Mad’u sebagai anggota masyarakat sanagt terpengaruh dengan kebudayaan, corak budaya yang paling dominan adalah budaya sunda, walaupun tidak semua penduduknya orang sunda. dalam ritual keagamaan dan memperingingati hari besar agam islam masih menggunakan tadisi-tadisi sunda, mad’u juga masih memengang norma dan nilai budaya sunda, walaupun sedikit-sedikit ada yang hilang dan tidak dipergunakan lagi, mungkin akibat pengaruh zaman. Mad’u disinipun sangat bertoleransi antar umat beragama. Mad’u juga selalu berperan aktif dalam acara-acara keagamaan.
Mad’u disini sangat memerlukan pencerahan lewat spritual agama. Misalnya setelah melakukan aktifitas bekerja. Selain itu agar dapat menyikapi masalah-masalah dengan baik, mencari jalan keluar dengan solusi yang tepat.
Mad sebagai manusia individu, disini lebih ke aliran john Locke yaitu pengaruh dari luar yang lebih kuat daripada pembawaan manusia. Banyak diantara mad’u yang thanya ikut-ikutan saja. Sikap psikis mad’u berbeda-beda tetapi mad’u disini suka bergaul dengan siapa saja, ramah,. Ma’d’u memiliki pengtahuan yang lumayan cukup tidak dari keterbelakangan pendidikan, kemampuan dan keterampilan juga memuaskan sehingga dapat dengan mudah diberi pemahaman dan pengertian.
Ma’du yang tinggal diperkotaan walaupun terkadang individualistis, tetapi masih memilki jiwa kebersamaan, kegotong royongan, sosial yang tinggi. Pada masyarakat ini tidak mengkotak-kotakan status sosial si kaya dengan si miskin, yang berpendidikan dengan yang tidak yang penduduk asli atau yang singgah, mad’u menganggap semua sama. Tidak ada kesenjangan sosial.

Hadirin kaum Muslimin yang diberkahi Allah!

Menjadi wanita merupakan tekanan, tindasan, keadaan terhina dan siksaan kezaliman, karena tradisi jahiliyyah, penindasan terhadap hak hidup, hak meteri, penindasan terhadap hukum dan penindasan lainnya, yang begitu cukup lama sebelum Islam datang.
Namun menjadi wanita kemudian merupakan rahmat kemuliaan, kehormatan, kebahagiaan, kebebasan, dan kebaikan lainnya setelah Islam datang. Islam telah membentangkan sedemikian banyak rahmat dan keselamatan bagi wanita.
Bahkan bentangan surga tergelar, dengan leluasa kita dapat meraih dengan mudah syurga di dunia dan surga di Akhirat. Bagaiman pemulian Islam terhadap kaum wanita? Inilah tema yang akan dijelaskan pada kesempatan ini.

Hadirin yang berbahagia!

Islam menyamaratakan antara kaum pria dan kaum wanita dalam banyak hal,  namun persamaan ini tidak mutlah seperti yang dilontarkan oleh sebagian orang. Allah menyamaratakan antara mereka dalam perintah beriman dan balasan atas keimana itu akhirat. Ini termasuk salah satu persamaan terbesar. Allah SWT. Berfirman

“Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun”. Q.S. an-Nisaa4:124
Di dalam persaman itu ada perbedaan,dan jika orang-orang yang menyamaratakan persamaan mutlak antara kaum pria dengan kaum wanita sebenarnya telah mengejek kaum wanita, sesab wanita memiliki kemampuan dan kekutan yang terbatas.Allah SWT. berfirman:

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita,…”.

Dengan demikian, usaha untuk menyamakan wanita dengan pria dalam berbagai sisi kehidupan tidaklah mungkin akan terwujud. Kuatnya perbedaa, baik fisik maupun nonfisik antara pria dan wanita dikuatkan oleh sabda Rasulullah saw. yang melaknat pria menyerupai wanita, atau sebaliknya.
Hadirin Rahimakumullah!

Dibawah naungan Islam, kaum wanita merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah SWT.. Allah berfirman dalam Q.S. ar-Ruum 30: 21

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.
Islam juga memberi penghormatan dan pemulan terhadap wanita sebagi seorang ibu. Ibu adalah pendidik generasi mendatang dan pencetak para pahlawan masa datang. Oleh karena itu Allah SWT. memerintahkan supaya berbuat baik terhadap ibu. Dalam hadist pun disebutkan bahwa syurga berada dibawah telap kaki ibu.

Selain sebagai tanta kekuasan-Nya, allah SWT. menjadikan kaum wanita sebagai salah satu nikmat yang harus disyukuri oleh kaum pria. Islam datang menjadikan wanita sebagai saudara pria. Rasulullah saw., bersabda:

“Sesungguhnya kaum wanita adalah saudara kaum pria.” (HR.Ahmad dan Tirmidzi).
Bahkan dalam kitab suci umat Islam, yaitu Al-Quran, mengkususkan pembahasan tentang wanita dalam satu surah dan menamakannya dengan An-nisaa( kaum wanita).
Islam muncul dan segera mengahapuskan kebiasaan jahiliyyah yang menghimpit dada kaum wanita. Setelah sekian lama tidak berhak mendapat bagian warisan, sekian lama wali menguasai maskawinnya, kini wanita berhak mendapatkan maskawinnya tersebut, bahkan Islam memberikan hak kepemilikan bagi kaum wanita. Dan Allah SWT juga telah mengharamkan mengubur hidu-hidup anak perempuan.
Islam bak pelampung keselamatan bagi kaum wanita yang diombang-ambing kesesatan dan kejahiliyyahan. Islam tidak pernah menganggap kaum wanita itu kotoran yang menjijikan sebagaimana anggapan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Namun Islam menganggap wanita sebagai permata yang harus dijaga dan dipelihara.

Hadirin yang berbahagia!

Bagaimana cara kita agar dapat masuk ke dalam surga? Pertanyaan inilah yang sealu muncul dibenak kita. Yang pertama adalah bahwa ketaatanmu kepada suami yang beriman dan tidak menyuruh selain kepada Allah SWT. ketaatan istri kepada suami sebagai salah satu dari empat sebab masukanya seseorang wanita ke dalam syurga, selain itu taat kepada suami menyamai pahala shalat jum’at, shalat berjamaah, dan jihad di jalan Allah. Rasulullah Saw. bersabda:

“Apabila seorang wanita melakukan shalat lima waktu, puasa pada bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan taat kepada suami, maka dikatakan kepadanya: ‘Masuklah kamu ke dalam surga dari puntu mana saja yang kamu inginkan.’ ” (HR. Inb Hibban dari Abu Hurairah)”

Saudari-saudari!
Wahai kaum Muslimin marilah kita menjalankan perintah-Nya, sebagai rasa syukur kita sebagai wanita, dimana Islam sangat mengagungkan, memuliakan wanita. Dalam menjlankan ibadah dan kehidupan sehari-hari tidak ada lagi diskriminasi terhada wanita.
Sesungguhnya wanita muslimah ibarat tanah yang subur yang akan melahirkan para ksatria. Ibarat bunga yang tumbuh diladang Islam, disirmi dengan air wahyu dan diberi wangi-wangian Sunnah yang pernuh berkah. Maka tersebarlah semerbak wanginya hingga meliputi seluruh alam.
Keindahan dan kemulian wanita akan sia-sia manakala dia memilih jalan salah yang menjerumuskannya ke tempat yang tidak terhormat, bahkan menyesatkan.
Namun banyak jalan terbentang di hadapannya utuk dipilih, kemudian ditetapinya, sehingga harapan menduduki tempat yang penuh kemulian, keindahan dan ketinggian derajat, ada dihadapannya.
Wahai kaumMuslimin jangan sampai enggan terhadap semua pahala yang dijanjikan dan jangan sampai kita enggan terhadap syurga, yang didalamnya terdapat kenikmatan yang tidak pernah di dengar oleh telinga, tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah terlintas di hati kita.
Sekarang kita sudah mengetahui bagaimana pemulian Islam terhadap wanita, kita sebagai wanita jangan berkecil hati janganlah merasa tidak berarti. Akhir kata semoga kita bisa mengambil manfaatnya dan dengan do’a ini”
“Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di siis- Mu dalam surga.”

Billahi taufik wal hidayah
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.